BAB II
TINJAUAN TEORITIS
ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
DENGAN GANGGUAN
SISTEM PERKEMIHAN; GAGAL GINJAL
KRONIK (GGK)
I.
TINJAUAN
TEORITIS MEDIS
A.
Defenisi
1.
Gagal ginjal kronik adalah suatu proses
patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi
ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal.
(Aru W. Sudono, Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV, Jilid I, Hal 570)
2.
Gagal ginjal kronik adalah penurunan
fungsi ginjal yang bersifat persisten dan ireversibel.
(Arif Mansjoer, Kapita
Selekta Kedokteran, Edisi III, Jilid I, Hal 531)
3.
Gagal ginjal kronik adalah keadaan
klinis kerusakan ginjal yang progresif dan ireversibel yang berasal dari
berbagai penyebab.
(Sylvia Anderson Price,
Patofisiologi, Edisi 6, Volume 2, Hal 917)
4.
Gagal ginjal kronik adalah destruksi
struktur ginjal yang progresif dan terus menerus.
(Elizabeth J. Corwin,
Patofisiologi, Edisi Revisi 3, Hal 729)
5.
Gagal ginjal kronik adalah suatu sindrom
klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun.
(Prof. Dr. H. Slamet
Suyono, SpPD,KE, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi III, Jilid II, hal 427)
6.
Gagal ginjal kronik adalah penurunan
faal ginjal yang terjadi berangsur dan umumnya tidak dapat pulih
(irreversible).
(Prof. dr. R. P.
Sidabutar, Penyakit Ginjal dan Hipertensi, Hal 1)
7.
Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi
renal yang progresif dan ireversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan
uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).
(Bruner & Suddarth,
Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume 2, Hal 1448)
Dari beberapa
pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa gagal ginjal kronik (GGK)
adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang
progresif (berangsur-angsur) dan umumnya tidak dapat pulih (irreversible) yang
berasal dari berbagai penyebab.
B.
Etiologi
Klasifikasi
Penyebab Gagal Ginjal Kronik
Klasifikasi
Penyebab
|
Penyakit
|
1.
Penyakit infeksi
tubulointerstitial
2.
Penyakit peradangan
3.
Penyakit vaskuler hipertensi
4.
Gangguan jaringan ikat
5. Gangguan
kongenital dan herediter
6.
Penyakit metabolik
7.
Nefropati toksik
8.
Nefropati obstruktif
|
-
Pielonefritis kronik atau refluks
nefropati
-
Glomerulonefritis
-
Nefrosklerosis benigna
-
Nefrosklerosis maligna
-
Lupus eritematosus sistemik
-
Poliarteritis nodosa
-
Sklerosis sistemik progresif
-
Penyakit ginjal polikistik
-
Asidosis tubulus ginjal
-
Diabetes melitus
-
Gout
-
Hiperparatiroidisme
-
Amiloidosis
-
Penyalahgunaan analgesik
-
Nefropati timah
-
Traktus urinarius bagian atas:
batu, neoplasma, fibrosis
retroperitoneal
-
Traktus urinarius bagian bawah:
hipertrofi prostat, striktur uretra,
anomali kongenital leher vesika urinaria dan uretra.
|
(Sylvia
Anderson Price, Patofisiologi, Edisi 6, Volume 2, Hal 918)
Penyebab
gagal ginjal di Indonesia tahun 2000
Penyebab
|
Insiden
|
Glomerulonefritis
|
46,39%
|
Diabetes mellitus
|
18,65%
|
Obstruksi dan infeksi
|
12,85%
|
Hipertensi
|
8,46%
|
Sebab lain
|
13,65%
|
(Aru W. Sudono, Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Edisi IV, Jilid I, Hal 571)
C.
Anatomi
dan Fisiologi
1.
Anatomi
2.
Fisiologi
Ginjal terletak pada
dinding abdomen, terutama di daerah lumbal, di sebelah kanan dan kiri tulang belakang,
di bungkus lapisan lemak yang tebal, di belakang peritoneum, dank arena itu di
luar rongga peritoneum.
Keudukan ginjal dapat
di perkirakan dari belakang, mulai dari ketinggian vertebra torakalis terakhir sampai
vertebra lumbalis ketiga. Ginjal kanan sedikat lebih rendah dari kiri, karena
hati menduduki ruang banyak di sebelah kanan.
Setiap ginjal
panjangnya 6 sampai 71/2 sentimeter, dan tebal 11/2
sentimeter. Pada orang dewasa beratnya kira-kira 140 gram.
Bentuk ginjal seperti
biji kacang dan sisi dalamnya atau hilum menghadap ke tulang punggung. Sisi
luarnya cembung. Pembuluh-pembuluh ginjal semuanya masuk dan keluar pada hilum.
Diatas setiap ginjal menjulang sebuah kelenjar suprarenal. Ginjal kanan lebih
pendek dan lebih tebal dari yang kiri.
Struktur ginjal. Setiap
ginjal dilingkupi kapsul tipis dari jaringan fibrus yang rapat membungkusnya,
dan membentuk pembungkus yang halus. Di dalamnya terdapat struktur-struktur
ginjal. Warnanya ungu tua dan terdiri atas bagian kortex di sebelah luar, dan bagian medula di sebelah dalam. Bagian
medula ini tersusun atas lima belas sampai enam belas masa berbentuk pyramid,
yang disebut piramis ginjal.
Puncak-puncaknya langsung mengarah ke hilum dan berakhir di kalises. Kalises
ini menghubungkanya dengan pelvis ginjal.
Nefron. Struktur halus
ginjal terdiri atas banyak nefron yang merupakan satuan-satuan fungsional
ginjal; di perkirakan ada 1.000.000 nefron dalam setiap ginjal. Setiap nefron
mulai sebagai berkas kapiler (badan malpighi atau glomerulus) yang erat
tertanam dalam ujung atas yang lebar pada uriniferus atau nefron. Dari sini tubulus berjalan sebagian berkelok-kelok dan
sebagian lurus. Bagian pertama tubulus berkelok-kelok dan dikenal sebagai kelokan pertama atau tubula proximal dan sesudah itu terdapat
sebuah simpai, simpai henle. Kemudian
tubula itu berkelok-kelok lagi, disebut kelokan kedua atau tubula distal, yang bersambung dengan tubula penampung yang
berjalan melintasi kortex dan medula, untuk berakhir di puncak salah satu
piramidis.
Pembuluh darah. Selain
tubulus urineferus, struktur ginjal juga berisi pembuluh darah. Arteri renalis
membawa darah murni dari aorta abdominalis ke ginjal. Cabang-cabangnya
beranting banyak di dalam ginjal dan
menjadi arteriola aferen (arteriolae afferentes), dan masing-masing membentuk
simpul dari kapiler-kapiler di dalam salah satu badan Malpighi inilah
glomerulus. Pembuluh aferen kemudian tampil sebagai arteriola aferen yang
bercabang-cabang membentuk jaringan kapiler sekaligus tubulus uriniferus.
Kapiler-kapiler ini kemudian bergabung lagi untuk membentuk vena renalis, yang
membawa darah dari ginjal ke vena kafa inferior. Maka darah yang beredar dalam
ginja mempunyai dua kelompok kapiler, yang bertujuan agar darah dapat lebih
lama berada disekitar tubulus uriniferus, karena fungsi ginjal tergantung dari
hal itu.
FUNGSI GINJAL
Fungsi ginjal ialah
pengatur keseimbangan air, pengatur konsentrasi garam dalam darah dan
keseimbangan asam-basa darah; dan ekskresi bahan buangan dan kelebihan garam.
Sekresi Urine dan
Mekanisme Fungsi Ginjal. Glomerulus adalah saringan. Setiap menit kira-kira 1
liter darah yang mengandung 500 ccm plasma, mengalir melalui semua glomeruli
dan sekitar 100 ccm (10 persen) dari itu di saring keluar. Plasma yang berisi
semua garam, glukosa dan benda halus lainya di saring. Sel dan protein plasma
terlalu besar untuk dapat menembus pori saringan dan tetap tinggal dalam aliran
darah.
Cairan yang disaring,
yaitu filtrat glomerulus, kemudian mengalir melalui tubula renalis dan
sel-selnya menyerap semua bahan yang diperlukan tubuh dan ditinggalkan yang
tidak diperlukan. Dengan mengubah-ubah jumlah yang diresap atau ditinggalkan
dalam tubula, maka sel dapat mengatur susunan urine di satu sisi dan susunan
darah di sisi sebaliknya. Dalam keadaan normal semua glukosa diabsorpsi
kembali; air sebagian besar diabsorpsi kembali, kebanyakan produk buangan dikeluarkan.
Dalam keadaan tertentu tubula menambah bahan pada urine.
(Evelyn C. Pearce,
Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Hal 245-248)
E.
Tanda
dan Gejala
1. Pada
gagal ginjal stadium 1, tidak tampak gejala-gejala klinis.
2. Seiring
dengan perburukan penyakit, penurunan pembentukan eritropoietin menyebabkan
keletihan kronis dan muncul tanda-tanda awal hipoksia jaringan dan gangguan
kardiovaskular.
3. Dapat
timbul poliuria (peningkatan pengeluaran urine) karena ginjal tidak mampu
memekatkan urine seiring dengan perburukan penyakit.
4. Pada
gagal ginjal stadium akhir, pengeluaran urine turun akibat GFR rendah.
(Elizabeth J. Corwin,
Patofisiologi, Edisi Revisi 3, Hal 730)
Manifestasi
Klinis Gagal Ginjal Kronik
Umum : Fatig, malaise, gagal
tumbuh, debil.
Kulit : Pucat, mudah lecet,
rapuh, leukonikia.
Kepala dan leher : Fetor uremik, lidah kering dan
berselaput.
Mata : Fundus hipertensif,
mata merah.
Kardiovaskular : Hipertensi, kelebihan cairan, gagal
jantung,
perikarditis, uremik,
penyakit vaskular.
Pernapasan : Hiperventilasi asidosis, edema
paru, efusi pleura.
Gastrointestinal : Anoreksia, nausea, gastritis, ulkus
peptikum,
kolitis uremik, diare
yang disebabkan oleh antibiotik.
Kemih : Nokturia, poliuria,
haus, proteinuria, penyakit
ginjal yang
mendasarinya.
Reproduksi : Penurunan libido, impotensi,
amenore, infertilitas,
ginekomastia,
galaktore.
Saraf : Latergi, malaise,
anoreksia, tremor, mengantuk,
kebingungan, flap,
mioklonus, kejang, koma.
Tulang : Hiperparatiroidisme,
defisiensi vitamin D.
Sendi : Gout, pseudogout,
kalsifikasi ekstra tulang.
Hematologi : Anemia, defisiensi imun, mudah
mengalami
perdarahan.
Endokrin : Multipel
Farmakologi : Obat-obat yang diekskresi oleh
ginjal.
(Arif Mansjoer, Kapita
Selekta Kedokteran, Edisi III, Jilid I, Hal 532)
F.
Klasifikasi
1.
Klasifikasi
Gagal Ginjal Kronik Atas Dasar Tahapannya
Tahapan
Gagal ginjal
|
LFG
(ml/mnt)
|
Manifestasi
|
a. Fungsi
ginjal ber-kurang
b. Ringan
c. Sedang
d. Berat
e. Terminal
(tahap akhir)
|
80-50
50-30
10-29
<10
<5
|
Tidak
ada.
Hipertensi,
hiperparatiroi-disme sekunder.
s.d.a
+ anemia.
s.d.a
+ retensi air dan garam, mual, muntah, nafsu makan hilang, penurunan fungsi
mental.
s.d.a
dengan edema paru, koma, kejang, asidosis metabolik, hiperkalemia, kematian.
|
(Prof. Dr. H. Slamet
Suyono, SpPD,KE, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi III, Jilid II, Hal 427)
2.
Klasifikasi
Penyakit Ginjal Kronik Atas Dasar Derajat Penyakit
Derajat
|
Penjelasan
|
LFG
(ml/mn/1,72 m2)
|
1
2
3
4
5
|
Kerusakan
ginjal dengan LFG normal atau meningkat
Kerusakan
ginjal dengan LFG menurun ringan
Kerusakan
ginjal dengan LFG menurun sedang
Kerusakan
ginjal dengan LFG menurun berat
Gagal
ginjal
|
≥
90
60-89
30-59
15-29
<
15 atau dialisis
|
(Aru W. Sudono, Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV, Jilid I, Hal 570)
3.
Klasifikasi
Penyakit Ginjal Kronik Atas Dasar Diagnosis Etiologi
Penyakit
|
Tipe
mayor (contoh)
|
a. Penyakit
ginjal diabetes
b. Penyakit
ginjal non diabetes
c. Penyakit
pada trans-plantasi
|
- Diabetes
tipe I dan II
- Penyakit
glomerular
(penyakit
autoimun, infeksi sistemik, obat, neoplasia)
- Penyakit
vaskular
(penyakit
pembuluh darah besar, hipertensi, mikroangiopati)
- Penyakit
tubulointerstitial
(pielonefritis
kronik, batu, obstruksi, keracunan obat)
- Penyakit
kistik
(ginjal polikistik)
- Rejeksi
kronik
- Keracunan
obat (siklosporin/takrolimus)
- Penyakit
recurrent (glomerular)
- Transplant
glomerulopathy
|
(Aru W. Sudono, Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV, Jilid I, Hal 570)
G.
Komplikasi
1. Pada
gagal ginjal progresif, terjadi beban volume, ketidakseimbangan elektrolit,
asidosis metabolik, azotemia dan uremia.
2. Pada
gagal ginjal stadium 5 (penyakit stadium akhir), terjadi azotemia dan uremia
berat. Asidosis metabolic memburuk, yang secara mencolok merangsang kecepatan
pernapasan.
3. Hipertensi,
anemia, osteodistrofi, hiperkalemia, ensefalopati uremik, dan pruritus (gatal)
adalah komplikasi yang sering terjadi.
4. Penurunan
pembentukan eritropoetin dapat menimbulkan sindrom anemia kardiorenal, suatu
trias anemia yang lama, penyakit kardiovaskular, dan penyakit ginjal yang
akhirnya menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas.
5. Dapat
terjadi gagal jantung kongestif.
6. Tanpa
pengobatan terjadi koma dan kematian.
(Elizabeth J. Corwin,
Patofisiologi, Edisi Revisi 3, Hal 730-731)
Tabel
Komplikasi Penyakit Ginjal Kronik
Derajat
|
Penjelasan
|
LFG
(ml/mnt)
|
Komplikasi
|
1
2
3
4
5
|
Kerusakan
ginjal dengan LFG normal
Kerusakan
ginjal dengan penurunan LFG ringan
Penurunan
LFG sedang
Penurunan
LFG berat
Gagal
ginjal
|
≥
90
60-89
39-59
15-29
<
15
|
-
-
Tekanan darah mulai meningkat
-
Hiperfosfatemia
-
Hiperkalcemia
-
Anemia
-
Hiperparatiroid
-
Hipertensi
-
Hiperhomosistine-mia
-
Malnutrisi
-
Asidosis metabolic
-
Cenderung hiperkalemia
-
Dislipidemia
-
Gagal jantung
-
Uremia
|
(Aru W. Sudono, Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV, Jilid I, Hal 572)
H.
Pemeriksaan
Penunjang
Untuk memperkuat
diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang baik pemeriksaan laboratorium
maupun radiologi.
1. Pemeriksaan
laboratorium
Pemeriksaan
laboratorium diperlukan untuk menetapkan adanya GGK, menentukan ada tidaknya
kegawatan, menentukan derajat GGK, menetapkan gangguan sistem, dan membantu
menetapkan etologi. Dalam menentukan ada atau tidaknya gagal ginjal, tidak
semua faal ginjal perlu diuji. Untuk keperluan praktis yang paling lazim diuji
adalah laju filtrasi glomerulus.
Disamping diagnosis GGK
secara faal dengan tingkatanya, dalam rangka diagnosis juga ditinjau factor
penyebab (etiologi) dan faktor pemburukanya. Kedua hal ini disamping perlu
untuk kelengkapan diagnosis, juga berguna untuk pengobatan.
2. Pemeriksaan
EKG
Untuk melihat
kemungkinan hipertrofi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis (misalnya
voltase rendah), aritmia dan gangguan elektrolit (hiperkalemia, hipokalsemia).
3. Ultrasonografi
(USG)
Menilai besar dan
bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi sistem,
pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih serta prostat. Pemeriksaan ini
bertujuan untuk mencari adanya factor yang reversibel seperti obstruksi oleh
karena batu atau masa tumor, juga untuk menilai apakah proses sudah lanjut
(ginjal yang lisut). USG ini sering dipakai oleh karena non-infasif, tak
memerlukan persiapan apapun.
4. Foto
Polos Abdomen
Sebaiknya tanpa puasa,
karena dehidrasi akan memperburuk fungsi ginjal, menilai bentuk dan besar
ginjal dan apakah ada batu atau obstruksi lain. Foto polos yang disertai
tomogram memberi keterangan yang lebih baik.
5. Pielografi
Intra-Vena (PIV)
Pada GGK lanjut tak
bermanfaat lagi oleh karena ginjal tak dapat memerlukan kontras dan pada GGK
ringan mempunyai resiko penurunan faal ginjal lebih berat, terutama pada usia
lanjut, diabetes melitus, dan nefropati asam urat. Saat ini sudah jarang
dilakukan pada GGK. Dapat dilakukan
dengan cara intravenous infusion pyelography, untuk menilai sistem
pelviokalises dan ureter.
6. Pemeriksaan
Pielografi Retrograd
Dilakukan bila
dicurigai ada obsstruksi yang reversibel.
7. Pemeriksaan
Foto Dada
Dapat terlihat tanda-tanda
bendungan paru akibat kelebihan air (fluid overload), efusi pleura,
kardiomegali dan efusi pericardial. Tak jarang ditemukan juga infeksi spesifik
oleh karena imunitas tubuh yang menurun.
8. Pemeriksaan
Radiologi Tulang
Mencari osteodistrofi
(terutama falang/jari), dan kalsifikasi metastatik.
(Prof. Dr. H. Slamet
Suyono, SpPD,KE, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi III, Jilid II, Hal
430-431)
I.
Penatalaksanaan
1. Tentukan
dan tata laksana penyebabnya
2. Optimalisasi
dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam. Biasanya diusahakan hingga
tekanan vena jugularis sedikit meningkat dan terdapat edema betis ringan. Pada
beberapa pasien, furosemid dosis besar (250-1000 mg/hari) atau diuretik loop
(bumetanid, asam etakrinat) diperlukan untuk mencegah kelebihan cairan,
sementara pasien lain mungkin memerlukan suplemen natrium klorida atau natrium
bikarbonat oral. Pengawasan dilakukan melalui berat badan, urine, dan
pencatatan keseimbangan cairan (masukan melebihi keluaran sekitar 500 ml).
3. Diet
tinggi kalori dan rendah protein
Diet rendah protein
(20-40 g/hari) dan tinggi kalori menghilangkan gejala anoreksia dan nausea dari
uremia, menyebabkan penurunan ureum dan perbaikan gejala. Hindari masukan
berlebihan dari kalium dan garam.
4. Kontrol
hipertensi
Bila tidak terkontrol
dapat dapat terakselerasi dengan hasil akhir gagal jantung kiri. Pada pasien
hipertensi dengan penyakit ginjal, keseimbangan garam dan cairan diatur
tersendiri tanpa tergantung tekanan darah. Sering diperlukan diuretik loop,
selain obat antihipertensi.
5. Kontrol
ketidakseimbangan elektrolit
Yang sering ditemukan
adalah hiperkalemia dan asidosis berat. Untuk mencegah hiperkalemia, dihindari
masukan kalium yang besar (batasi hingga 60 mmol/hari), diuretik hemat kalium,
obat-obat yang berhubungan dengan ekskresi kalium (misalnya, penghambat ACE dan
obat anti inflamasi non steroid), asidosis berat, atau kekurangan garam yang
menyebabkan pelepasan kalium dari sel dan ikut dalam kaliuresis. Deteksi
melalui kadar kalium plasma dan EKG.
(Arif Mansjoer, Kapita Selekta
Kedokteran, Edisi III, Jilid I, Hal 533)

{ 1 komentar... read them below or add one }
terimakasih banyak infonya, sangat menarik sekali dan bermanfaat
Post a Comment